Adab Menuntut Ilmu

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari Kiamat, amma ba’du:
Ilmu memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam, bahkan ayat yang pertama turun adalah ayat yang mengajak untuk belajar. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,” (Terj. Al ‘Alaq: 1)
Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga sampai bersumpah dengan sarana untuk memperoleh ilmu, yaitu pena. Dia berfirman, “Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,” (Terj. Al Qalam: 1)
As Sunnah juga menguatkan kedudukan ilmu sampai-sampai menjadikan usaha ntuk memperoleh ilmu sebagai jalan ke surga. Rasulllah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi)
Bahkan pahala ilmu akan terus mengalir setelah pemiliknya wafat. Rasulllah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila seseorang meninggal, maka terputuslah amalnya selain tiga perkara; sedekah jaariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Para penuntut llmu juga merupakan wasiat Rasulllah shallallahu 'alaihi wa sallam, dimana para pengajar diperintahkan berbuat baik kepada mereka. Beliau bersabda,
سَيَأْتِيْكُمْ أَقْوَامٌ يَطْلُبُوْنَ الْعِلْمَ فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُمْ فَقُوْلُوْا لَهُمْ   مَرْحَبًا بِوَصِيَّةِ رَسُوْلِ اللهِ وَ أَفْتُوْهُمْ
“Akan datang kepadamu orang-orang yang mencari ilmu, maka apabila kamu melihat mereka, ucapkanlah kepada mereka, “Selamat datang kepada wasiat Rasulllah shallallahu 'alaihi wa sallam”, dan berlah fatwa kepada mereka.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Sa’id, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3651)
Ilmu juga merupakan jalan bagi seorang muslim untuk mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Oleh karena itu, ahli lmu adalah orang yang paling takut kepada Allah (lihat surat Fathir: 28).
Pembagian ilmu
Ilmu terbagi menjadi dua bagian; fardhu ‘ain dan fardhu kifayah.
Fardhu ‘ain adalah ilmu yang setap muslim wajib mengetahuinya, seperti ilmu tentang Tuhannya, agamanya dan Nabinya shallallahu 'alaihi wa sallam. Adapun yang fardhu kifayah adalah llmu yang harus ada di kalangan kaum muslimin untuk menopang kehidupan mereka, seperti ilmu kedokteran, industri, dsb.
Adab menuntut ilmu
Dalam menuntut ilmu ada beberapa adab yang perlu diperhatikan, namun sebelumnya perlu kiranya dketahui tentang pentingnya adab tersebut.
Burhanuddin Az Zarnuuji berkata, “Orang-orang yang hadir di majlis ilmu itu banyak, namun mengapa yang keluar (berhasil) hanya sedikit? Hal itu, karena kebanyakan mereka tidak mengerjakan adab penuntut ilmu.”
Ibnul Mubarak berkata, “Aku belajar ilmu selama dua puluh tahun, dan aku belajar adab ilmu selama tiga puluh tahun.”
Ibnul Kharrath Al Isybiliy menyebutkan dari sebagian ahli ilmu, ia berkata, “Janganlah meremehkan adab, karena barang siapa yang meremehkan adab, maka ia akan meremehkan sunnah-sunnah, dan barang siapa yang meremehkan sunnah-sunnah, maka ia akan meremehkan yang wajib-wajib.”
Adab Penuntut Ilmu
Berikut ini beberapa adab penuntut ilmu yang perlu diperhatikan:
1.       Jujur dan ikhlas.
Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At Taubah: 119)
Rasulllah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niat, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai yang ia niatkan.” (HR. Bukhari)
Nab shallallahu 'alaihi wa sallam juga memberitahukan, bahwa orang yang pertama kali menjadi bahan bakar neraka adalah tiga orang, yang salah satunya adalah orang yang belajar agama dan mengajarkannya agar disebut sebagai orang ‘alim, dan orang yang membaca Al Qur’an agar disebut qari’ (sebagaimana dalam hadits riwayat Muslim),  nas’alullahas salaamah wal ‘aafiyah.
Oleh karena itu, hendaknya seorang penuntut ilmu meniatkan di hatinya untuk menggapai ridha Allah dan mendapatkan kampung akhirat, menyingkirkan kebodohan dari dirinya serta menghilangkan kebodohan yang menimpa orang lain. Dia pun hendaknya berniat untuk menegakkan agama Islam dan menjaganya, karena Islam terjaga dengan ilmu. Sikap zuhud dan takwa pun tidak mungkin dicapai dengan kebodohan.
2.       Mencari ilmu yang bermanfaat
Di antara doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah,
اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَ مِنْ دُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ وَ مِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَؤُلاَءِ الْأَرْبَعِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyu’, dari doa yang tidak didengar, dari jiwa yang tidak puas dan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Aku berlindung dari empat hal itu kepada-Mu.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i dari Ibnu ‘Amr, dan diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Hakim dari Abu Hurairah, dan Nasa’i dari Anas, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1297).
Seorang penyair berkata,
مَا أَكْثَـرُ الْعِلْـمَ وَمَــا أَوْسَعَــهُ
مَنْ ذَا الَّـذِيْ يَقْــدِرُ أَنْ يَجْمَعَـهُ
إِنْ كُنْـتَ لاَ بـُدَّ لَـهُ طَـالِــبًا
مُحَاوِلاً، فَالْتَمِــسْ أَنْفَعَــــــــهُ
Alangkah banyak ilmu itu dan alangkah luasnya
Siapakah yang dapat mengumpulkannya
Jika kamu harus mencari dan berusaha kepadanya,
Maka carilah yang bermanfaat darinya.
3.       Menyiapkan alat tulisnya.
Imam Syafi’i berkata, “Sesungguhnya di antara penyebab terhalangnya ilmu adalah menghadiri majlis ilmu tanpa menyalinnya.”
Ada yang berkata, “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” Ada pula yang berkata, “Ilmu itu binatang buruan, dan talinya adalah mencatat.”
Ada atsar (riwayat) dari Thawus, bahwa ketika ia menghadiri (majlis) Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma, maka ia selalu menulis, sampai suatu ketika ia tidak memperoleh sesuatu untuk menulis, maka ia menulis di tangannya.”
4.       Fokus kepada ilmu tersebut.
Ada seorang yang berkata,
الْعِلْمُ لاَ يُعْطِيْكَ بَعْضَهُ حَتَّى تُعْطِيَهُ كُلَّكَ
“Ilmu tidak akan memberikan sebagiannya kepadamu sampai kamu memberikan bagianmu semua kepadanya.”
5.       Membersihkan jiwa dari akhlak yang buruk.
Ilmu yang bermanfaat adalah cahaya dari Allah yang diberikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Oleh karena itu, hendaknya seorang penuntut ilmu menjauhi dirinya dari hasad, riya’, ‘ujub, dan semua akhlak tercela. Imam Syafi’i berkata,
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ
فَأَرْشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِى
فَإِنَّ الْحِفْظَ فَضْلٌ مِنَ اللهِ
وَفَضْلُ اللهِ لاَ يُعْطَى لِعَاصِى
Aku pernah mengeluh kepada Waki’ tentang buruknya hapalanku,
Maka ia menunjukiku agar meninggalkan maksiat
Karena hapalan adalah karunia Allah
Dan karunia Allah itu tidak diberikan kepada pelaku maksiat.
6.       Manfaatkanlah usia muda untuk menuntut ilmu, meskipun usia tua bukan penghalang menuntut ilmu.
Hal itu, karena belajar di masa kecil seperti mengukir di atas batu, sedangkan belajar di masa tua seperti mengukir di atas air, karena disibukkan oleh banyak urusan. Meskipun begitu, Allah Subhaanahu wa Ta’ala berkuasa menjadikan seseorang kuat hapalan walaupun usianya telah lanjut.
7.       Hendaknya penuntut ilmu hadir dalam keadaan yang rapi dan baik.
Oleh karena itu, hendaknya ia tidak datang dalam keadaan menahan buang air, lapar, pikiran sedang risau dan sebagainya.
8.       Bekerja tidaklah menghalangi untuk belajar.
Para sahabat semuanya bekerja, namun setelah mereka bekerja, maka sisa waktunya mereka gunakan untuk belajar agama. Abu Sa’id berkata, “Kami berperang dan membiarkan seorang atau dua orang untuk mendengar hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu keduanya menceritakan kepada kami sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami juga menceritakan; kami katakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda.” (HR. Ibnu ‘Asakir).
9.       Bertahap dalam menuntut ilmu.
Hendaknya seorang penuntut ilmu mendahulukan yang terpenting di antara sekian ilmu, seperti ilmu tentang ‘Aqidah dan ibadah, serta yang dibutuhkan pada saat itu.
10.    Harus sabar.
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya dari Yahya bin Katsir, ia berkata, “Ilmu tidaklah diperoleh dengan jiwa-raga yang santai.
Imam Syafi’i pernah berkata,
أَخِيْ لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إِلاَّ بِسِتَّةٍ سَأُنَبِّئُكَ عَنْ تَفْصِيْلِهَا بِبَيَانٍ: ذَكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاجْتِهَادٍ وَدِرْهَمٍ وَصُحْبَةِ أُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ
“Saudaraku, kamu tidak akan mencapai ilmu kecuali dengan enam perkara, aku akan terangkan dengan jelas, yaitu: kecerdasan, semangat, sungguh-sungguh, ada dirham (biaya), didampingi guru, dan waktu yang lama.”
11.    Demikian juga hendaknya seorang murid, tidak memilih jenis ilmu menurut dirinya sendiri. Bahkan hendaknya ia serahkan masalah itu kepada guru. Karena guru memiliki pengalaman tentang hal itu.
12.    Duduk yang sopan. Oleh karena itu, hendaknya ia tidak bersandar. Demikian juga hendaknya ia tidak duduk dengan duduk orang yang sombong, yaitu dengan menaruh kaki yang satu di atas kaki yang lain.
13.    Hendaknya ia bertanya dengan baik, dan lebih baik lagi jika ia awali dengan mendoakannya, seperti mengucapan “Semoga Allah mengampuni engkau” dan menggunakan kata-kata yang lembut terhadapnya.
Imam Malik berkata, “Abu Salamah bin Abdurrahman bin ‘Auf pernah mendebat Ibnu Abbas sehingga banyak ilmu yang terhalang baginya.” Adh Dhahhak berkata, “Aku tidaklah mengambil ilmu ini dari para ulama kecuali dengan bersikap lembut kepada mereka.”
14.    Tidak malu dalam bertanya.
Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (Terj. QS. An Nahl: 43)
Aisyah berkata, “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, dimana rasa malu tidak menghalangi mereka belajar agama.”
Oleh karena itu, hendaknya seorang penuntut ilmu tidak malu bertanya, karena ilmu itu perbendaharaan, sedangkan kuncinya adalah bertanya.
Meskipun begitu, hendaknya ia tidak banyak bertanya kecuali jika dibutuhkan, tentunya dengan sikap sopan dan beradab.
15.    Hadir di majlis sebelum guru datang.
16.    Tidak memotong pembicaraannya.
17.    Hendaknya ia memuliakan guru tanpa berlebihan. Hal itu, karena ia membawa kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
18.    Diam memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru.
Sufyan Ats Tsauriy rahimahullah pernah berkata:
اَوَّلُ الْعِلْمِ اْلإِسْتِمَاعُ ثُمَّ الْإِنْصَاتُ ثُمَّ الْحِفْظُ ثُمَّ الْعَمَلُ ثُمَّ النَّشْرُ
“Ilmu diawali dengan mendengarkan, lalu memperhatikan, kemudianmenghapalnya, lalu mengamalkan kemudian menyebarkan.”

19.  Memurajaah ilmu yang ia peroleh dari guru.
Mu’adz bin Jabal berkata, “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya karena Allah adalah rasa takut, mencarinya adalah ibadah, mengingat-ingatnya adalah tasbih, mengkajinya adalah jihad, mengajarkan kepada orang yang tidak tahu adalah sedekah dan memberikan kepada orang yang berhak adalah sebuah pendekatan diri kepada Allah.”
20.  Hendaknya waktunya lama.
Imam Ahmad berkata, “(Menuntut ilmu) dari tempat tinta sampai ke tempat kubur.”
21.  Hendaknya memperhatikan tiga perkara dalam ilmu, yaitu Al Qur’an, As Sunnah dan Tauhid.
22.  Hendaknya ia tidak banyak berdehem atau banyak bertingkah, dan tidak bersiwak di majlis ilmu. Demikian juga hendaknya ia tidak banyak tertawa, tidak bercakap-cakap dengan kawannya, tidak merendahkan saudaranya atau mengolok-olok mereka, karena mereka adalah saudaranya.
23.  Berusaha tidak mengantuk.
24.  Tidak banyak meminta pengulangan kepada guru.
25.  Buah dari ilmu adalah mengamalkannya dan menyampaikannya.
Allah Subhaanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang tidak mengamalkanilmu mereka dan menyerupakan mereka seperti keledai yang memikul kitab-kitab, namun tidak paham isinya. Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman,
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (Terj. QS. Al Jumu’ah: 5)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْئَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيْمَ أَبْلاَ
“Tidaklah bergeser dua kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan. Tentang ilmunya, untuk apa ia berbuat, tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia keluarkan, serta tentang badannya untuk apa ia letihkan?” (HR. Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 7300)
26.  Hendaknya ia berusaha mengikat dhawabith (kaidah dalam satu masalah) dan kaidah kulliyyah (yang menyeluruh), memilah hadits yang shahih dengan yang dha’if dan mencatat masalah-masalah furu’.
27.  Jika seorang penuntut ilmu hendak pindah ke guru yang lain, hendaknya ia beritahukan, dan bahwa berpindahnya itu bukan maksudnya karena merasa tidak butuh kepadanya, dan hal ini dilakukan dengan penuh adab dan hormat.
28.  Hendaknya ia menjauhi berbicara dengan guru menggunakan kalimat yang menunjukkan kesombongan, seperti “menurut saya” atau “saya lebih menguatkannya,” dsb.
29.  Jika seorang guru salah ucap tanpa disadari, maka silahkan meluruskan dengan penuh hormat.
30.  Hendaknya ketika ia berdahak atau bersin tidak mengeraskan suaranya. Dan untuk bersin, hendaknya ia tutup mukanya dengan bajunya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam (HR. Abu Dawud dan Hakim dengan sanad shahih).
31.  Hendaknya ia tidak mendesak seorang guru ketika guru sedang lelah.
32.  Tidak patut bagi penuntut ilmu memutuskan penjelasan guru ketika menerangkan pelajaran.
33.  Abu Hanifah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya saya mendapatkan ilmu dengan memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya. Setiap kali aku paham dan diberitahukan fiqh dan hikmah, aku berkata “Al Hamdulillah”, maka bertambahlah ilmuku.”
Demikianlah sepatutnya seorang penuntut ilmu, ia menyibukkan diri dengan bersyukur baik dengan lisan, hati, anggota badan maupun keadaan. Dia yakin bahwa pemahaman, ilmu dan taufiq yang didapatkannya adalah berasal dari Allah Ta’ala. Ia pun meminta hidayah-Nya dengan berdoa dan bertadharru’ (merendahkan diri) kepada-Nya, karena Allah Ta’ala akan menunjuki orang yang meminta hidayah kepadanya.
34.  Demikian juga hendaknya ia membaca buku-buku tentang adab menuntut ilmu, seperti Tadzkiratus saami’ wal mutakallim fii aadabil ‘aalim wal muta’allim karya Badruddin bin Jama’ah, Ta’limul Muta’allim (namun ada beberapa kekeliruan di dalamnya dan hadits-haditsnya juga banyak yang dha’if), Adabul ‘aalim wal muta’allim oleh Imam Nawawi yaitu pada kitab Al Majmu’nyaHilyah Thalibil ‘Ilmioleh Syaikh Bakar Abu Zaid dan bagian awal kitab Jami’ul ilmi wa fadhluh oleh Ibnu ‘Abdil Barr.
Kaum salaf dalam menuntut ilmu
Setelah Rasulllah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat, maka Ibnu ‘Abbas banyak bertanya kepada para sahabat Rasulllah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang apa yang disabdakan Rasulllah shallallahu 'alaihi wa sallam. Setiap kali ia mengetahui ada seorang yang mengetahui hadits Rasulllah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka ia segera pergi kepadanya. Jika ia mendapati sahabat tersebut sedang tidur siang, maka ia duduk di pintunya dan menunggunya hingga bangun, sampai-sampai ia tertimpa debu-debu yang diterbangkan oleh angin yang bertiup di gurun. Ketika sahabat itu keluar dan melihat Ibnu ‘Abbas, maka ia berkata, “Wahai keponakan Rasulllah shallallahu 'alaihi wa sallam, kenapa engkau datang ke sini? Tidakkah engkau kirim seseorang kepadaku, biarlah aku yang datang kepadamu?” Ibnu ‘Abbas menjawab, “Tidak, saya lebih berhak datang kepadamu untuk menanyakan hadits kepadamu?” (HR. Hakim)
Jabir bin Abdillah berkata, “Telah sampai kepadaku sebuah hadits dari seseorang yang ia dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku beli seekor unta untuk pergi mendatanginya, maka aku pergi kepadanya dalam waktu sebulan hingga aku sampai di Syam, lalu aku mendapatinya yaitu Abdullah bin Unais radhiyallahu ‘anhu, maka aku berkata kepada penjaga pintu, “Katakan kepadanya bahwa Jabir ada di pintu.” Maka Abdullah bin Unais berkata, “Apakah putera Abdullah?” Aku menjawab, “Ya.” Maka ia pun segera keluar menemuinya, lalu ia memelukku dan aku pun memeluknya, maka aku berkata, “Ada sebuah hadits yang sampai kepadaku darimu; bahwa engkau mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang qishas, maka aku khawatir kamu wafat atau aku wafat sebelum aku mendengarnya, maka Abdulllah bin Unais menyampaikan hadits itu kepadanya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani)
Ubaidullah bin ‘Addiy berkata, “Telah sampai kepadaku sebuah hadits yang ada pada ‘Ali (bin Abi Thalib), maka aku khawatir jika ia wafat, lalu aku tidak memperolehnya pada orang lain. Oleh karena itu, aku mengadakan perjalanan untuk menemuinya sehingga aku menemuinya di Irak.” (Diriwayatkan oleh Al Khathib)
Ibnu Mas’ud berkata, “Kalau sekiranya ada orang yang dapat dicapai oleh unta, dimana orang tersebut ternyata lebih tahu tentang apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka aku akan mendatanginya sehingga ilmuku bertambah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir)
Wallahu a’lam, wa shallallahu ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.
Marwan bin Musa
Maraaji’: Adab Thalibil ‘Ilmi (Syaikh KHalid bin Abdul ‘Aziz Al Huwaisain),Aadabul ‘Ilmi (dari situs islam.aljayyash.net.), Modul Akhlak (penyusun)   dll.

Title : Adab Menuntut Ilmu
Description : Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga har...

0 Response to "Adab Menuntut Ilmu"

Post a Comment

Kategori

Adab (9) Adzan (16) Ain (1) Air (3) Anak (1) Anjing (2) Aqiqah (3) Asuransi (1) Bangkai (1) Cadar (1) Demonstrasi (9) Doa (35) Dzikir (1) E-Book (2) Gadai (1) Gerhana (6) Hadiah (1) Haid (3) Haji Dan Umroh (9) Hibah (1) Hijab (1) Homo (1) Hudud (7) I'tikaaf (1) Ied (2) Ifthaar (1) Ilaa (1) Isbal (7) Jabat Tangan (1) Jaminan (1) Jenazah (5) Jenggot (2) Jihad (3) Jual Beli (18) Judi (2) Jum'at (6) Junub (1) Kaidah Fiqh (83) KENCING (1) Khitan (1) Khutbah (2) Lailatul Qadr (1) Mahrom (1) Makanan (1) Masbuq (1) Masjid (3) Membunuh (1) Mencuri (1) MLM (2) Muharram (2) Nafkah (6) Najis (2) Nama (5) Nawazil (3) Nifas (2) Nikah (15) Nusyuz (1) Other (1) Politik (8) Puasa (11) Qurban (11) Riba (8) Sahur (3) Sedekah (1) Sewa (1) Shaf (3) Sholat (58) Siwak (1) Suci (2) Sujud (4) Sumpah (1) Ta'ziah (1) Tabarruj (3) Takbir (1) Talak (14) Tarawih (1) Tasyrik (3) Tayamum (3) Tepuk Tangan (1) Tetangga (1) Thaharah (3) Ular (1) Video Dan Audio (1) Wirid (1) Witir (2) Wudhu (6) Yatim (1) Zakat (9) Ziarah (1) Zina (2)

Random Ayat Quran

Millis

Join dan ikuti diskusi ilmiah, tanya jawab dan info-info yang insyaAllah sangat bermanfaat.