Panduan Tayamum


Defenisi Tayammum


Secara bahasa Tayammum diambil dari kata تَيَمَّمَ bermakna قَصَدَ [AZ1] , yang artinya: menuju, memaksudkan, menyengaja. Sedangkan secara syara’ adalah mempergunakan sho’id (sesuatu di permukaan bumi) dan mengusapkan ke wajah dan kedua telapak tangan dengan niat untuk sholat. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 21/347 dan Fathul Bari1/574 Karya Ibnu Hajar).

Dalil Al-Qur’an:

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُمْ مِنَ الْغَآئِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَآءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَايُرِيْدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih): sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Alloh tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Maidah: 6).

Dalil Hadits:

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  قَالَ الصَّعِيْدُ الطَّيِّبُ طَهُوْرُ الْمُسْلِمِ وَإِنْ لَمْ يَجِدِ الْمَاءَ عَشَرَ سِنِيْنَ
Dari Abu Dzar bahwasanya Rosululloh bersabda: “Sesungguhnya tanah yang suci adalah alat bersuci bagi seorang muslim sekalipun dia tidak mendapatkan air sepuluh tahun”. ((HR. Nasa’i (321) Tirmidzi (124) Abu Daud (332) Ahmad (5/180). Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shohih” dan dishohihkan Ibnu Hibban, Daruqutni, Abu Hatim, Al-Hakim, Dzahabi, Nawawi sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil (153) karya Al-Albani).   DalilError! Bookmark not defined. Ijma’: Para ulama telah bersepakat tentang disyari’atkkannya tayammum sebagaimana dinukil oleh Imam Abu Muhammad bin Hazm dalam kitabnya Marotibul Ijma’ (hal. 18) dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (21/350).
Tayammum merupakan kekhususan yang diberikan Alloh kepada umat Islam berdasarkan hadits:
أُعْطِيْتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِيْ نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ وَجُعِلَتْ لِيْ الأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُوْرًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِيْ أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ وَأُحِلَّتْ لِيْ الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِيْ وَأُعْطِيْتُ الشَّفَاعَةَ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خاَصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
Dari Jabir bahwasanya Rasululloh bersabda: “Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada seorangpun sebelumku: aku ditolong dengan dengan rasa takut (yang muncul di hati musuh) sebulan perjalanan: dijadikan untuk diriku tanah sebagai masjid dan alat bersuci, maka siapapun orang dari umatku yang menjumpai waktu sholat, hendaklah sholat, dihalalkan bagiku ghonimah (harta rampasan perang) yang tidak dihalalkan bagi seorangpun sebelumku, aku diberi syafa’at dan seorang Nabi (sebelumku) hanya diutus kepada kaumnya saja tetapi aku diutus kepada seluruh manusia.(HR. Bukhori no. 335 Muslim no.521)
Tayammum tidak digunakan dalam setiap waktu, namun hanya dalam keadaan-keadaan tertentu sebagai berikut:
1. Ketika tidak ada air, baik dalam keadaan safar maupun tidak. Hal ini berdasarkan hadits sebagai berikut:
عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ  رَأَى رَجُلاً مُعْتَزِلاً لَمْ يُصَلِّ مَعَ الْقَوْمِ فَقَالَ يَا فَلاَنُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تُصَلِّيَ مَعَ الْقَوْمِ فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَصَابَتْنِيْ جَنَابَةٌ وَلاَ مَاءَ قَالَ عَلَيْكَ بِالصَّعِيْدِ فَإِنَّهُ يِكْفِيْكَ
Dari ‘Imron bin Hushoin berkata: Kami pernah bersama Rasululloh dalam suatu safar lalu beliau sholat mengimami manusia, tiba-tiba ada seseorang yang menyendiri. Melihatnya, beliau bersabda: “Mengapa engkau tidak ikut sholat?” Jawabnya: “Saya jinabat sedangkan tidak ada air”. Rasululloh bersabda: “Hendaknya engkau (bertayammum) dengan tanah, karena itu mencukupimu”. (HR. Bukhori (348) Nasa’i (320) Darimi (749) Ahmad (4/434-435) Ibnu Huzaimah dalam Shohihnya (271) dan Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo (122-Ghoutsul Makdud-).
2. Ketika menderita luka atau penyakit yang dikhawatirkan akan bertambah parah atau tertunda sembuhnya jika terkena air. Baik berdasarkan pengalaman ataupun pemberitahuan dari dokter terpercaya. Hal ini berdasarkan hadits berikut:
عَنْ جَابِرٍ قَالَ خَرَجْنَا فِيْ سَفَرٍ فَأَصَابَ رَجُلاً مِنَّا حَجَرٌ فَشَجَّهُ فَيْ رَأْسِهِ ثُمَّ احْتَلَمَ فَسَأَلَ أَصْحَابَهُ فَقَالَ هَلْ تَجِدُوْنَ لِيْ رُخْصَةً فِيْ التَّيَمُّمِ فَقَالُوْا مَا نَجِدُ لَكَ رُخْصَةً وَأَنْتَ تَقْدِرُ عَلَى الْمَاءِ فاَغْتَسَلَ فَمَاتَ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلىَ النَّبِيِّ  أُخْبِرَ بِذَلِكَ فَقَالَ قَتَلُوْهُ قَتَلَهُمُ اللهُ أَلاَ سَأَلُوْا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوْا فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعَيِّ السُّؤَالُ
Dari Jabir berkata: “Kami pernah mengadakan safar, ada seorang sahabat kami yang tertimpa batu hingga terluka kepalanya lalu dia mimpi basah dan bertanya kepada para sahabatnya: apakah kalian memandang ada rukhsoh (keringanan) padaku untuk bertayammum? Mereka menjawab: Menurut kami engkau tidak mendapatkan keringanan selagi engkau mampu menggunakan air. Diapun mandi lalu meninggal dunia. Tatkala kami datang kepada Rasululloh, beliau dikhabarkan dengan peristiwa tadi kemudian beliau bersabda: Mereka telah membunuhnya, maka Alloh akan mematikan mereka, mengapa mereka tidak bertanya bila tidak mengetahuinya karena obat kejahilan adalah bertanya”. (HR. Abu Daud (336) Ibnu Majah (572) Daruqutni dalamSunan-nya (1/189) dihasankan Syaikh Al-Albani dalam Ats- Tsamarul Mustatob1/ 33). Perlu diketahui bersama bahwa dalam hadits ini ada tambahan yang mungkar yaitu:
إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيْهِ أَنْ يَتَيَمَّمَ ويَعْصِرُ أَوْ يَعْصِبُ عَلَى جَرْحِهِ خِرْقَةً ثُمَّ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَيَغْسِلُ سَائِرَ جَسَدِهِ
“Sesungguhnya dia hanya cukup untuk bertayammum Dan hendaknya dia membalut lukanya dengan kain lalu mengusap bagian atasnya dan membasuh seluruh badannya”. Syaikh Syaroful Haq berkata dalam Aunul Ma’bud(1/535): “Riwayat penyatuan antara tayammum dengan mandi tidaklah diriwayatkan kecuali oleh Zubair bin Huraiq. Rowi ini disamping memang tidak kuat haditsnya, dia juga telah menyelisihi seluruh para perowi yang meriwayatkan dari Atho’ bin Abi Robah. Maka riwayat penyatuan antara tayammum dan mandi adalah riwayat yang lemah, tidak dapat dijadikan hukum”. (Lihat pula Tamamul Minnahhal.131-132 karya Al-Albani). Perhatikanlah masalah ini karena ada hubungannya dengan masalah berikutnya!.
3. Apabila air sangat dingin sekali dan dikhawatirkan membahayakan dirinya serta tidak mampu memanaskannya. Hal ini berdasarkan hadits sebagai berikut:
عَنْ عَمْرٍو بْنِ الْعَاصِ قَالَ احْتَلَمْتُ فِيْ لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ فِيْ غَزْوَةِ ذَاتِ السَّلاَسِلِ فَأَشْفَقْتُ إِنِ اغْتَسَلْتُ أَنْ أَهْلِكَ فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابِيْ الصُّبْحَ فَذَكَرُوْا ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ  فَقَالَ يَا عَمْرُو صَلَّيْتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُبٌ فَأَخْبَرْتُهُ بِالَّذِيْ مَنَعَنِيْ مِنَ الْاِغْتِسَالِ وَقُلْتُ إِنِّي سَمِعْتُ اللهَ يَقُوْلُ وَلاَ تَقْتُلُوْا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا فَضَحِكَ رَسُوْلُ اللهِ  وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا
Dari ‘Amr bin ‘Ash berkata “Aku pernah mimpi basah pada suatu malam yang sangat dingin sekali dalam perang Dzat Salasil, saya khawatir bila saya mandi, saya akan mati karenanya. Maka saya tayammum dan sholat Shubuh bersama para sahabat, tatkala kami datang kepada Rasululloh, para sahabat menceritakan kejadianku. Nabi bersabda: Wahai ‘Amr, benarkah engkau sholat bersama para sahabatmu padahal engkau junub? Maka saya kabarkan kepada beliau suatu yang mnghalangiku untuk mandi. Dan saya berkata: Aku mendengar firman Alloh: “Janganlah engkau membunuh diri kalian, sesungguhnya Alloh Maha Penyayang kepada kalian” Sebab itulah saya tayammum kemudian sholat. Rasululloh tertawa dan tidak mengatakan sedikitpun”. (HR. Abu Daud (334) Ahmad (4/203) Daruqutni dalam Sunan-nya (1/178) Ibnu Hibban (202) Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (647) Bukhori dalam Shohihnya secara mu’allaq dan dikuatkan Al-Hafidz dalam Fathul Bari 1/603 dan Al-Albani dalamIrwaul Gholilno.154)

Tayammum harus dengan Debu?

Dalam Al-Qur’an, Alloh menyebutkan dengan lafadz “As-Sho’id” artinya adalah tanah dan segala yang ada dipermukaan bumi sebagaimana dijelaskan oleh para ahli bahasa. Al-Fairuz Abadi bekata dalam Al-Qomus Muhith (1/318): “As-Sho’id” adalah tanah dan segala yang ada di permukaan bumi”. Dalam kamus “Mukhtar Shihah” (hal.363) dinyatakan: “As-Sho’id adalah tanah. Tsa’lab berkata: “Segala yang ada di permukaan bumi”. Ibnu Mandzur dalam Lisan Arob(3/254) menjelaskan: “As-Sho’id artinya tanah, dikatakan juga tanah yang bersih. Dalam Al-Qur’an dinyatakan:
فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا
Maka bertayammumlah dengan sho’id yang baik (bersih) Abu Ishaq berkata: “As-Sho’id adalah permukaan bumi, manusia boleh bertayammum dengan permukaan bumi baik berdebu maupun tidak berdebu. Sebab maksud As-Sho’id bukan hanya debu semata, tetapi segala yang ada di permukaan bumi baik tanah maupun selainnya. Beliau juga mengatakan: Seandainya ada sebuah batu yang tidak berdebu lalu seorang bertayammum dengan batu tersebut, ini sudah mencukupi”. Kesimpulannya, alat tayammum tidaklah disyaratkan harus tanah/debu sekalipun tanah/debu itu lebih baik untuk digunakan. Ini merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Malik, dipilih oleh Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (2/158-161) serta disetujui Syaikh Al-Albani dalam Ats-Tsamarul Mustatob(1/31).

Bertayammum dengan dinding

Diperbolehkan bagi seorang untuk bertayammum dengan tembok atau dinding, baik terbuat dari beton maupun kayu, dicat maupun tidak. Demikian ditegaskan Syaikh Al-Albani secara lisan sebagaimana diceritakan oleh Syaikh Abdul Adhim Al-Badawi dalam kitabnya Al-Wajiz fi Fiqh Sunnah(Hal. 51) kemudian beliau (Al-Albani) membacakan ayat Alloh: 
وَمَا كَانَ رَبُّكَ نَسِيًّا
Dan tidaklah Robbmu lupa. (QS. Maryam: 64).Hal ini berdasarkan keumuman hadits berikut:
عَنْ عُمَيْرٍ مَوْلىََ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَقْبَلْتُ أَنَا وَعَبْدُ اللهِ بنُ يَسَارٍ مَوْلَى مَيْمُوْنَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ  حَتَّى دَخَلْنَا عَلىَ أَبِيْ جُهَيْمِ بنِ الْحَارِثِ بْنِ الصِّمَّةِ الأَنْصَارِيِّ فَقَالَ أَبُوْ جُهَيْمِ أَقْبَلَ النَّبِيُّ  مِنْ نَحْوِ بِئْرِ جَمَلٍ فَلَقِيَهُ رَجُلٌ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ  حَتَّى أَقْبَلَ عَلَى الْجِدَارِ فَمَسَحَ بِوَجْهِهِ وَيَدَيْهِ ثُمَّ رَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ
Dari ‘Umair maula Ibnu Abbas berkata: Saya dan Abdulloh bin Yasar -pembantu Maimunah, istri Nabi n- pernah menemui Abu Juhaim bin Harits bin Shimmah Al-Anshori. Abu Juhaim bercerita: “Nabi kembali dari Bi’r Jamal (sebuah kota terkenal dekat kota Madinah) lalu seseorang bertemu dengan beliau seraya mengucapkan salam, Nabi tidak menjawabnya hingga beliau menemukan tembok dan mengusap wajah dan tangannya kemudian menjawab salam orang tadi”. (HR. Bukhori no. 337 dan Muslim no. 369).

Tata cara Tayammum.

Tata cara Tayammum secara gamblang dijelaskan dalam hadits Ammar sebagai berikut:
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ إِنِّيْ أَجْنَبْتُ فَلَمْ أُصِبِ الْمَاءَ فَقاَلَ عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَمَا تَذْكُرُ أَنَّا كُنَّا فَيْ سَفَرٍ أَنَا وَأَنْتَ فَأَمَّا أَنْتَ فَلَمْ تُصَلِّ وَأَمَّا أَناَ فَتَمَعَّكْتُ فَصَلَّيْتُ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ  فَقَالَ النَّبِيُّ  إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيْكَ هَكَذَا فَضَرَبَ النَّبِيُّ  بِكَفَّيْهِ الأَرْضَ وَنَفَخَ فِيْهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ
Dari Abdurrohman bin Abza berkata: Telah datang seorang laki-laki kepada Umar bin Khottob seraya berkata: “Saya junub sedangkan aku tidak mendapati air”, Amar (bin Yasir) berkata kepada Umar bin Khottob: “Ingatkah engkau ketika kita dahulu pernah dalam suatu safar, engkau tidak sholat sedangkan aku mengguling-guling badanku dengan tanah lalu aku sholat. Setelah itu kuceritakan kepada Nabi kemudian beliau bersabda: “Cukuplah bagimu seperti ini.” Nabi menepukkan kedua telapak tangannya ke tanah lalu meniupnya dan mengusapkan ke wajah dan telapak tangannya”.(HR. Bukhori no. 338 dan Muslim no.368). Dalam riwayat lain disebutkan dengan lafadz:
التَّيَمُّمُ ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ
Tayammum itu satu tepukan untuk wajah dan kedua telapak tangan. (HR. Abu Daud (327) Ahmad (4/263) Tirmidzi (144) Darimi (751) Ibnu Huzaimah dalam Shohihnya (266, 267) dan Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqo (126) dan dishohihkan oleh Imam Darimi dalam Sunan-nya dan Al-Albani dalam Irwaul Gholil no.161). Hadits diatas memberikan penjelasan kepada kita tentang beberapa perkara:
1. Bolehnya tayammum bagi orang junub. Imam Al-Baghowi mengatakan dalam Syarh Sunnah (1/109-110): “Dalam hadits ini terdapat beberapa faedah. Salah satunya, bolehnya tayammum bagi orang junub apabila tidak menjumpai air. Ini merupakan pendapat mayoritas ahli ilmu. Demikian pula wanita haidh dan nifas apabila telah suci (yang sebenarnya harus mandi) tetapi tidak menjumpai air, hendaknya bertayammum…” (Periksa pula Al-Majmu’ (2/239-240) karya Nawawi, Nailul Author 1/248 karya Syaukani).
2. Anggota tayammum hanyalah wajah dan telapak tangan saja. Inilah pendapat yang benar. Adapun hadits-hadits yang menjelaskan bahwa tayammum sampai ke siku atau ketiak seluruhnya tidak ada yang shohih sebagaimana dijelaskan secara bagus oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (1/590-891). Lanjut beliau: “Di antara hal yang memperkuat riwayat Bukhori Muslim yang hanya mencukupkan wajah dan telapak tangan saja adalah fatwa Ammar bin Yasir sepeninggal Nabi bahwa anggota tayammum adalah wajah dan telapak tangan. Tidak ragu lagi, perowi hadits lebih mengerti tentang makna hadits daripada orang selainnya, lebih-lebih seorang sahabat mujtahid (seperti Ammar bin Yasir)”. (Lihat pula At-Talkhis Habir 1/237-239 karya Ibnu Hajar, Nasbu Royah 1/150 karya Az-Zaila’i).
3. Tayammum hanyalah sekali tepukan saja Tidak boleh lebih lantaran seluruh hadits yang menjelaskan bahwa tayammum dua atau tiga tepukan seluruhnya tidak ada yang shohih. Syaikh Al-Albani berkata: “Ketahuilah bahwa dalam sebagian lafadz hadits Ammar terdapat lafadz “dua tepukan” sebagaimana juga terdapat lafadz “siku” pada sebagian riwayat. Semua ini tidak shohih. Dalam kitabnya At-Talkhis hal. 56 Al-Hafidz mengatakan: Berkata Ibnu Abdil Barr: Kebanyakan riwayat hadits yang shohih dari Ammar adalah dengan lafadz “satu tepukan” adapun riwayat yang menyebutkan dengan lafadz “dua tepukan” seluruhnya Mudhtorib (goncang)”. (Lihat Irwaul Gholil(1/185-186). Pendapat satu tepukan ini merupakan pendapat mayoritas ahli ilmu sebagaimana dinukil Ibnu Mundzir dan beliau memilihnya. (Lihat pula Sailul Jaror 1/133 karya Syaukani dan Tuhfatul Ahwadzi 1/374-384 karya Al-Mubarokfuri).
4. Sunnahnya meniup kedua telapak tangan. Bukhori membuat bab hadits di atas dengan bentuk pertanyaan “Bab: Apakah seorang bertayammum meniup tangannya?”. Adapun Ibnu Huzaimah beliau membuat bab dalamShohihnya (1/135) dengan tegas “Bab meniup kedua tangan setelah mengusapkannya dengan tanah untuk tayammum”. Imam Ahmad berkata: “ Tidak apa-apa seorang mengerjakan atau meninggalkannya sekalipun debunya hanya sedikit” (Lihat Al-Muqhni 1/324 Ibnu Qudamah). As-Shon’ani juga berpendapat sunnah dalamSubul Salam (1/197). Dalam kitabnya Al-Muhalla (1/368), imam Ibnu Hazm cenderung menguatkan pendapat ini (sunnah).
5. Apakah disyaratkan tertib dalam tayammum? Tertib dalam tayammum tidaklah disyaratkan. Karenanya, maka boleh bagi seorang untuk mendahulukan wajahnya dulu atau mendahulukan telapak tangannya terlebih dahulu. Inilah madzhab imam Malik dan disetujui Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 1/606 dan As-Shon’ani dalamSubulus Salam 1/196. (Lihat pula Al-Munakholah Nuniyyah hal.28 oleh Syaikh Murod Syukri). Sekalipun mendahulukan wajah lebih utama sebagaimana Alloh mendahulukannya dalam Al-Qur’an.

Tayammum Gantinya Wudhu

Tayammum adalah gantinya wudhu. Hal itu mengandung konsekwensi bahwa hukum asal tayammum menduduki kedudukan wudhu. Karenanya, seorang yang hendak bertayammum diperbolehkan bertayammum sebelum masuk waktu sholat ataupun sesudahnya, untuk melaksanakan sholat fardhu maupun sunnah, untuk menjadi imam maupun makmum sebagaimana halnya dia berwudhu. Hasan Al-Basri berkata: “Tayammum berkedudukan seperti wudhu, apabila anda bertayammum berarti anda seperti berwudhu hingga berhadats”. (HR. Said bin Mansur sebagaimana dalam Fathul Bari1/593).
وَأَمَّ ابْنُ عَبَّاسٍ وَهُوَ مُتَيَمِّمٌ
Ibnu Abbas pernah menjadi imam padahal beliau bertayammum. (HR. Bukhori secara muallaq, Ibnu Abi Syaibah dan Baihaqi secara bersambung dengan sanad shohih sebagaimana kata Al-Hafidz Ibnu Hajar). Demikian pula taqrir (persetujuan) Nabi kepada sahabat ‘Amr bin Ash yang sholat bersama para sahabat dengan tayammum sebagaimana hadits di atas tadi. Ini merupakan madzhab Abu Hanifah yang dikuatkan oleh imam Syaukani dalam Nailul Author(1/252).

Pembatal Tayammum

Pembatal Tayammum sama halnya dengan pembatal wudhu seperti hadats besar maupun kecil, tidur nyenyak, menyentuh farji dan sebagainya. Demikian pula adanya air bagi yang bertayammum karena tidak ada air, serta kemampuan menggunakan air bagi yang bertayammum karena tidak mampu menggunakan air seperti sakit, luka dan lain sebagainya. Adapun sholat yang telah ditunaikan tetap sah dan tidak perlu diulang lagi. Hal ini berdasarkan hadits sebagai berikut:
عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ خَرَجَ رَجُلاَنِ فِيْ سَفَرٍ فَحَضَرَتِ الصَّلاَةُ وَلَيْسَ مَعَهُمَا مَاءٌ فَتَيَمَّمَا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَصَلَّيَا ثُمَّ وَجَدَا الْمَاءَ فِيْ الْوَقْتِ فَأَعَادَ أَحَدُهُمَا الصَّلاَةَ وَالْوُضُوْءَ وَلَمْ يُعِدِ الآخَرُ ثُمَّ أَتَيَا رَسُوْلَ اللهِ  فَذَكَرَا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ لِلَّذِيْ لَمْ يُعِدْ أَصَبْتَ السُّنَّةَ وَأَجْزَأَتْكَ صَلاَتُكَ وَقاَلَ لِلَّذِيْ تَوَضَّأَ وَأَعَادَ لَكَ الأَجْرُ مَرَّتَيْنِ
Dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata: Ada dua orang laki-laki keluar dalam suatu safar (perjalanan). Kemudian tiba waktu sholat sedang tidak ada air bersama keduanya lalu keduanya bertayammum dengan tanah yang suci sekaligus sholat. Tak lama kemudian, keduanya menjumpai air, maka seorang mengulangi wudhu dan sholatnya sedangkan seorang lainnya tidak mengulangi. Keduanya kemudian datang kepada Rasululloh serta menceritakan halnya, lantas sabda Nabi kepada yang tidak mengulangi sholat: “Engkau telah mencocoki sunnah dan sholatmu sudah cukup” sedangkan sabda beliau kepada yang mengulangi sholat: “Engkau mendapatkan dua pahala”. (HR. Abu Daud (338), Nasai (431), Darimi (750), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (651) dan berkata: Hadits shohih menurut syarat Bukhori Muslim. Ibnu Sakan juga meriwayatkan secara maushul(bersambung) dalam Shohihnya sebagaimana disebutkan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam At-Talkhis1/244).

Tayammum bagi orang terluka

Apabila seorang mempunyai balutan luka maupun patah dan sebagainya, maka tidak ada kewajiban untuk mengusapnya baik dalam wudhu maupun tayammum. Dalilnya adalah firman Alloh:
لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا
Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Al-Baqoroh: 286) Dan juga sabda Nabi:
إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
Apabila aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian. (HR. Bukhori no. 7288 dan Muslim no. 369). Berdasarkan dalil dari Al-Qur’an dan hadits di atas, maka hal-hal yang tidak dapat dikerjakan itu gugurlah [AZ2] hukumnya. Bila dikatakan: Mengusap balutan adalah gantinya mengusap anggota badan, maka akan kami jawab bahwa perbuatan tersebut (mengusap balutan) termasuk syari’at sedangkan syari’at adalah Al-Qur’an dan sunnah. Ternyata tidak ada penjelasan dalam Al-Qur’an dan Sunnah untuk mengusap balutan luka atau obat. Dengan demikian maka gugurlah perkataan ini. (Lihat Al-Muhalla 2/74 karya Imam Ibnu Hazm).

Bolehkan menggauli istri ketika tidak ada air?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini tetapi pendapat yang kuat adalah boleh dan tidak dibenci. Dalil bolehnya adalah sebagai berikut: Perkataan Abu Dzar Al-Ghifari: “Saya tidak mendapatkan air dan keluarga saya (istri) bersamaku, ketika aku jinabat aku sholat tanpa bersuci. Mengetahui hal itu, Nabi bersabda: “Tanah yang bersih merupakan alat bersuci”. (HR. Ahmad (5/146-147) Abu Daud (333) Lihat Shohih Sunan Abu Daud(1/99-100) karya Al-Albani). Pendapat boleh ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Sa’id bin Musayyib, Jabir bin Zaid, Hasan Al-Basri, Qotadah, Tsauri, Auza’i, Ahmad, Ishaq bin Rohawaih, Abu Hanifah, Syafi’i dan mayoritas ahli hadits.Dipilih oleh Ibnu Mundzir dan Ibnu Hazm. (Lihat Al-Mughni 1/354 karya Ibnu Qudamah, Al-Muhalla 1/365 karya Ibnu Hazm). Imam Nawawi berkata: “Para sahabat kami telah bersepakat tentang bolehnya tanpa ada sedikitpun kebencian”. (Al-Majmu’ 2/241).

Bolehkah Membeli Air Untuk Wudhu ?

Diperbolehkan bagi seorang untuk membeli air untuk wudhu apabila tidak memberatkannya. Demikian ditegaskan Syaikh Al-Albani sebagaimana diceritakan oleh muridnya Husain Al-Awaisyah yang terekam dalam kaset kajian fikih pada dauroh syari’yyah di Yordania. Demikianlah pembahasan tentang tayammum pada edisi kali ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.
(Abu Ubaidah Al-Atsari).
 [AZ1]arab
 [AZ2]gugurlah

Title : Panduan Tayamum
Description : Defenisi Tayammum Secara bahasa Tayammum diambil dari kata  تَيَمَّمَ  bermakna  قَصَدَ   [AZ1]  , yang artinya: menuju, memaksudkan...

0 Response to "Panduan Tayamum"

Post a Comment

Kategori

Adab (9) Adzan (16) Ain (1) Air (3) Anak (1) Anjing (2) Aqiqah (3) Asuransi (1) Bangkai (1) Cadar (1) Demonstrasi (9) Doa (33) Dzikir (1) E-Book (2) Gadai (1) Gerhana (6) Hadiah (1) Haid (3) Haji Dan Umroh (9) Hibah (1) Hijab (1) Homo (1) Hudud (7) I'tikaaf (1) Ied (2) Ifthaar (1) Ilaa (1) Isbal (7) Jabat Tangan (1) Jaminan (1) Jenazah (5) Jenggot (2) Jihad (3) Jual Beli (18) Judi (2) Jum'at (6) Junub (1) Kaidah Fiqh (83) Khitan (1) Khutbah (2) Lailatul Qadr (1) Mahrom (1) Makanan (1) Masjid (3) Membunuh (1) Mencuri (1) MLM (2) Muharram (2) Nafkah (6) Najis (2) Nama (5) Nawazil (3) Nifas (2) Nikah (15) Nusyuz (1) Other (1) Politik (8) Puasa (11) Qurban (11) Riba (8) Sahur (3) Sedekah (1) Sewa (1) Shaf (3) Sholat (58) Suci (2) Sujud (4) Sumpah (1) Ta'ziah (1) Tabarruj (3) Takbir (1) Talak (14) Tarawih (1) Tasyrik (3) Tayamum (3) Tepuk Tangan (1) Tetangga (1) Thaharah (2) Ular (1) Video Dan Audio (1) Wirid (1) Witir (2) Wudhu (6) Yatim (1) Zakat (9) Ziarah (1) Zina (2)

Random Ayat Quran

Millis

Join dan ikuti diskusi ilmiah, tanya jawab dan info-info yang insyaAllah sangat bermanfaat.